DAMPAK PENDEMI COVID-19 TERHADAP KINERJA UMKM: MITIGASI DAN PEMULIHAN

Di Indonesia, salah satu sektor yang paling terdampak dari pandemi COVID-19 adalah sektor Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM). Padahal UMKM menjadi salah satu sektor yang penting bagi perekonomian Indonesia sebagai mata pencaharian mayoritas penduduk Indonesia. 

Untuk mengetahui dampak pandemi COVID-19 terhadap UMKM Indonesia, Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) menyelenggarakan sebuah penelitian dengan melakukan survei secara online kepada 679 UMKM di 24 provinsi selama 1-20 Mei 2020. Selain itu, dilakukan wawancara mendalam kepada beberapa UMKM tersebut.

Dalam webinar yang diselenggarakan pada Selasa, 30 Juni 2020, Kepala P2E LIPI, Dr. Agus Eko Nugroho memaparkan hasil dari penelitian ini. Webinar ini juga menghadirkan pembicara lainnya, yaitu: Dr. Syahnan Palipi, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO) serta tiga pelaku UMKM: Gemi Miranti dari Jakarta, Supriyono dari Jawa Tengah, dan Titik Wahyuni dari Jawa Tengah.

Webinar ini dibuka oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan, Prof. Tri Nuke Pudjiastuti dan dimoderasi oleh Dr. Trina Fizzanty.

Dalam paparannya, Bapak Agus mengatakan bahwa mayoritas UMKM mengalami penurunan keuntungan akibat pandemi COVID-19 yang terjadi di semua skala usaha. Mereka semua mengalami kerentanan dan kemungkinan hanya bisa bertahan dalam jangka waktu yang tidak panjang akibat adanya potensi risiko seperti kredit macet dan PHK yang akan meningkat.

Bapak Agus juga memaparkan bahwa prasyarat pemulihan UMKM adalah tetap memberlakukan pembatasan sosial serta protokol kesehatan, melakukan sosialisasi protokol kesehatan, membatasi aktivitas kerumunan, memenuhi ketersediaan PCR dan swab, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana rawat inap, dan fleksibilitas penerapan PSBB berdasarkan skala regional.

Sementara, Bapak Syahnan menekankan pada pentingnya pemberian fasilitas kepada UMKM yang tidak hanya berupa uang, tetapi juga fasilitas kemudahan dan pendampingan dalam hal seperti sertifikasi halal, BPOM, dan pemasaran. Mereka juga berharap akan adanya edukasi kepada UMKM khusususnya dalam hal teknologi informasi dan literasi keuangan.

Pelaku UMKM seperti Ibu Gemi yang menjual berbagai macam kue menceritakan bahwa dalam menghadapi pandemi COVID-19, beliau mempertimbangkan tenaga kerja karena tidak berani meminta orang datang ke rumahnya untuk bekerja. Ibu Gemi harus membatasi varian pesanan untuk mengantisipasi hal ini.

Bapak Supriyono yang menjadi pengusaha di bidang jasa pendidikan juga terpengaruh pandemi COVID-19 karena tidak ada siswa yang belajar di sekolah, tidak ada ujian, dan tidak ada lomba sehingga motivasi anak untuk ikut bimbingan belajar menurun. Beliau mengantisipasinya dengan mengunjungi anak-anak satu per satu secara terjadwal.

Terakhir, Ibu Titik, seorang pengusaha kerupuk kulit ikan nila, mengeluhkan banyaknya toko oleh-oleh yang tutup. Beliau juga mengalami kesulitan menerima bahan baku karena banyak pabrik yang tutup. Untuk mengantisipasinya, beliau harus menjual mobil dan membeli mini container lalu membuka usaha makanan frozen food di halaman rumah dengan menyediakan wifi. 

Materi seminar ini dapat dilihat di link berikut https://s.id/MateriPemulihanUMKM

 UMKM, webinar, covid-19

 KS

Komentar

*
*
*