4th Thee Kian Wie Lecture Series 2019:

Pembangunan ekonomi Indonesia saat ini dapat ditingkatkan dengan adanya kebijakan yang diterapkan melalui kajian yang menyeluruh dari berbagai elemen, seperti dari budaya dan politik. “Proses pembangunan pun tidak bisa cepat, Indonesia butuh melakukan pendekatan konstruktif  dari sejarah serta membutuhkan sinergi strategi ekonomi,” ujar Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2009-2014, Boediono dalam The 4th Thee Kian Wie Lecture Series 2019 yang diadakan oleh Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta pada Selasa (30/4).

Boediono menyebutkan, pendekatan konstruktif sejarah perlu untuk membentuk sikap yang apresiatif tidak hanya terhadap elemen ekonomi saja, tapi juga non-ekonomi. “Bila ditelusuri dari sejarah, negara-negara yang sukses dalam membangun ekonomi fokus terhadap tiga hal: pendidikan, birokrasi, dan infrastruktur,” tuturnya. Hal itu berdasarkan pengamatannya terhadap negara-negara Asia Timur yang berhasil dan sukses melakukan pembangunan secara menyeluruh seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Hongkong, China dan Vietnam.  

Keberhasilan ekonomi melalui, pendidikan, birokrasi, dan infrastruktur ini juga disampaikan oleh pakar ekonomi  Australian National University, Prof. Hal Hill. “Negara-negara menjalankan ketiga hal itu secara konsisten dan berkelanjutan. Indonesia bisa berhasil apabila belajar dan mencontoh dari negara tersebut,” ungkapnya. Menurutnya, kelompok negara ini memiliki strategi yang sama dengan Indonesia dari sektor penting seperti industri, pasar dan finansial.

Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox mengatakan, Asia Timur melakukan secara serius dan berkesinambungan yang akhirnya pembangunan ekonomi negara tersebut bermakna bagi semua sektor penting. “Begitu pula Indonesia untuk jangka waktu panjang bagaimana menyiapkan generasi baru yang  sesuai dengan rencana, bagaimana membangun negeri melalui  sumber daya manusia,” ujarnya.

Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho, menjelaskan kendala dan tantangan inklusivitas keuangan di Indonesia. ‘Pertama, perbankan sebagai pelaku dominan di pasar keuangan menghadapi problema kekakuan bisnis dan keterbatasan informasi dalam menyediakan kredit skala kecil kepada Usaha Kecil Menengah akibat peraturan yang rigid dari otoritas keuangan,” ujar Agus. Menurut Agus, operasional perbankan juga secara sosiologis jauh dari karakteristik UKM serta Rumah Tangga Miskin yang menuntut informalitas kemudahan dan kecepatan layanan.

Permasalahan kedua, lanjut Agus, adalah tingginya bunga kredit mikro oleh lembaga keuangan non-bank akibat besarnya biaya operasional dan keterbatasan likuiditas serta tidak berkembangnya sistem penjaminan di pasar kerdit mikro. “Sedangkan permasalahan berikutnya adalah dominansi perbankan dalam mobilitas tabungan dan distorsi pasar akibat intervensi subsidi bunga program kredit mikro pemerintah,” ungkapnya. Situasi ini, ujar Agus, menyebabkan kompetisi yang tidak adil  antara perbankan dan lembaga keuangan non-bank. “Di sisi lain, keterkaitan operasional baik pola channelling dan executing tidak berjalan baik antara keduanya,” terangnya.

Thee Kian Wie Lecture Series merupakan sebagai bentuk tanggungjawab keilmuan Pusat Penelitian Ekonomi LIPI. Juga sebagai bentuk penghargaan sekaligus mengenang jasa-jasa peneliti senior mendiang Thee Kian Wie yang wafat pada 8 Februari 2014 lalu, dengan warisan luar biasa baik untuk kemajuan ilmu pengetahuan sosial dan kebijakan ekonomi di Indonesia. (mtr, drs/ed: fz)

Sumber berita: http://lipi.go.id/berita/pendekatan-sejarah-untuk-pembangunan-ekonomi-indonesia/21620

Sumber foto: asiapacific.anu.edu.au

 Seminar

 Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Komentar

*
*
*