Joint Feasibility Study Indonesia Taiwan Economic Partnership

Joint Feasibility Study Indonesia Taiwan Economic Partnership, diselenggarakan pada tanggal 4 Desember 2018, di Dieng Meeting Room Hotel Kartika Chandra, Studi Kerja Sama Ekonomi Indonesia – Taiwan ini dilakukan secara bersama antara Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Chung-Hua Institution for Economic Research (CIER), Taiwan tahun 2018. Studi ini bertujuan untuk mengkaji kemungkinan bentuk kerjasama yang feasible antara Indonesia dan Taiwan. Ada tiga bentuk kerjasama ekonomi dalam kerangka World Trade Organization (WTO) yang dikaji, yaitu: Preferential Trade Agreement (PTA), Free Trade Agreement (FTA); atau kerjasama yang lebih luas dalam bentuk Economic Partnership Agreement yang mencakup tidak hanya penghapusan tarif dan non-tarif tetapi juga kerja sama ekonomi yang lebih luas.
PTA pada prinsipnya adalah kerjasama perdagangan yang didasarkan pada skema preferential yang simetris ataupun tidak simmetris. Simetris dalam arti sektor/produk yang diliberalisasi harus sama antar pihak yang melakukan perundingan; sementara asimetris – kedua belah pihak bisa meliberalisasi jumlah sektor/produk yang jumlahnya tidak sama. Dalam PTA ini, partner dagang bisa menerapkan non-reciprocal preferential schemes (untuk sector/produk).
Dengan sifat PTA tersebut, kajian ini menyarankan bahwa pembentukan PTA antara Indonesia dan Taiwan adalah dimungkinkan; di mana kedua pihak bisa mengajukan sektor/produk mana yang diminta di buka di pasar tujuan ekspor, atau menyusun sektor/produk yang akan dibuka di dalam negeri.
Disepakati secara akademis (berdasar kajian ini), bahwa Indonesia meminta (request) kepada Taiwan untuk membuka pasarnya untuk 325 produk (HS 6 – Digits) yang diimpor dari Indonesia; sementara Taiwan meminta Indonesia untuk membuka pasar dalam negerinya untuk 33 produk (HS 6 – Digits) yang diimpor dari Taiwan. Untuk lebih memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak, diharapkan bahwa PTA ini tidak sebatas penghapusan tarif, tetapi juga nontariff
(non-Tariff Measures - NTMs), kerjasama di bidang jasa, kerjasama sektoral, investasi, fasilitas perdagangan (trade facilitation), Sanitary-Phyto Sanitary (SPS) dan lainnya. Dengan memperhatikan kerjasama-kerja sama yang sudah ditandatangani antara Taiwan dan pihak lain (Singapura - ASTEP) dan (New Zealand – ANZTEC), maka Indonesia dan Taiwan juga bisa menggunakan skema yang sama. Dalam perjanjian perdaganagn yang akan dibentuk, supaya
sesuai dengan Prinsip-prinsip WTO, maka disarankan untuk menggunakan terminologi yang sama.
Kerja sama perdagangan bebas bilateral Indonesia dan Taiwan bisa menggunakan klausul:
Agreement between Indonesia and the Separate Customs Territory of Taiwan, Penghu, Kinmen, and Matsu. Dengan klausul ini, pembentukan kerja sama bilateral PTA atau kerjasama lanjutan yang lebih komprehensif bisa dilakukan.

 Kerjasama

 ARF

Komentar

*
*
*