Media Brifing Outlook Perekonomian 2021: Upaya Mempercepat Pemulihan Ekonomi di Tengah Pandemi

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam agenda Media Briefing Outlook Perekonomian 2021 memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional akan bergerak menuju perbaikan di tahun 2021. Sinyal perbaikan pertumbuhan ekonomi telah Nampak di Q3-2020.  Namun perbaikan perekonomian ini bergantung pada kecepatan pemerintah dalam melakukan program vaksinasi secara nasional.

Jumlah vaksin yang tersedia akan dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah untuk melakukan negosiasi dengan produser. Sementara jumlah penduduk yang divaksin dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap vaksin itu sendiri. Pada Media Briefing kali ini, Kepala Puslit Ekonomi, LIPI, Agus Eko Nugroho, menjabarkan 3 outline penting, yaitu refleksi perekonomian nasional, proyeksi perekonomian pada tahun 2021, dan tantangan dan strategi pemulihan ekonomi nasional.

Refleksi perekonomian nasional secara garis besar menunjukkan bahwa hampir semua sektor mengalami pertumbuhan negatif pada kuartal II dan III, namun perlahan lahan mulai menunjukkan rebound. Hal ini didukung oleh upaya pemerintah dari segi preparedness dinilai cukup baik.

Salah satu yang menjadi catatan penting adalah walaupun adanya peningkatan mobilitas pasca dibukanya PSBB tidak serta merta otomatis meningkatkan aktivitas ekonomi. Misalnya saja pertumbuhan PDRB Bali pasa Q3 bahkan mengalami kontraksi. Namun, di beberapa daerah seperti Sulawesi Utara sudah mengalami peningkatan PDRB yang signifikan di Q3.

Sektor sektor yang menjadi penahan kontraksi dalam pertumbuhan ekonomi dan serapan tenaga kerja adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sedangkan yang menghadapi goncangan paling besar adalah sektor manufaktur. Untuk sektor perdagangan, pergudangan, transportasi, dan akomodasi masih mampu menjadi tumpuan tenaga kerja.

Untuk tahun 2021, keberadaan vaksin akan menjadi salah satu variabel untuk mendorong ekspektasi konsumsi. Misalnya saja, apabila cakupan vaksin sudah sampai 50% maka diproyeksikan akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan di angka 3-3.7%.

Jadi, sebenarnya walaupun pandemi telah memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian indonesia, namun masih ada beberapa hal yang bisa memberikan optimisme seperti pengalaman Indonesia di masa krisi yang cukup cepat mengalami perbaikan dan juga adanya vaksin yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian.

Dr. Purwanto yang menjabarkan Isu & tantangan ketahanan pangan di Indonesia menjelaskan bahwa sebelum pandemi COVID-19, berdasarkan global hunger index 2019 indonesia menduduki posisi yang tidak terlalu baik namun juga tak buruk. Dampak pandemi COVID-19 secara makro menyebabkan resesi ekonomi, kehilangan pekerjaan, dan penurunan pendapatan masyarakat. Sehingga Meningkatnya potensi kemiskinan menimbulkan kerentanan ketahanan pangan rumah tangga karena keterbatasan aksesibilitas (ketersediaan dan harga pangan yang terjangkau).

Ada beberapa tantangan ketahanan pangan di masa dan pasca pandemi covid-19, salah satunya adalah kapasitas produksi pertanian, pencegahan klaster covid - 19 di sektor pertanian, stabilitas harga pangan, migrasi perdagangan dari offline ke online, volume perdagangan internasional, dan perbaikan pola konsumsi masyarakat.

Hasil survei online LIPI pada 15 September hingga 5 Oktober 2020 dengan sampel 1489 responden menghasilkan temuan bahwa 35,93% responden dalam kondisi fod insecure, 23,84% dalam kondisi marginal food security, dan yang cukup mengkhawatirkan adalah adanya 12,09% responded dalam kondisi ketahanan pangan yang rendah, biasanya dialami oleh responden dengan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan tidak tetap dan rendah. Mereka berusaha bertahan dari tabungan, menjual aset dan berhutang.

Rekomendasi kebijakan yang diberikan adalah melanjutkan program perlindungan sosial sepanjang tahun 20201 dengan target dan sasaran yang lebih akurat serta mekanisme penyaluran yang efisien, meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional, optimasi peran Bulog pada penguatan kapasitas logistik komoditas pangan strategis, dan edukasi masyarakat terkait dengan diversifikasi pangan lokal.

M. Soekarni, M.Si menjabarkan tentang isu dan tantangan lingkungan usaha. Dimana, UMKM menjadi pelaku ekonomi paling terdampak selama pandemi Covid-19. Salah satu dampaknya adalah lebih dari 70% UMKM mengalami penurunan penjualan dan keuntungan hingga 50%, mayoritas (58,76%) harga produk/jasa menurun, dan biaya mengalami peningkatan. Sehingga muncul potensi kredit macet, PHK, supply & demand drop, hingga kebangkrutan.

Ada beberapa strategi strategi yang dilakukan dalam menghadapi masalah ini, mulai dari memberi potongan harga, pencari pasar baru, mengurangi tenaga kerja, penundaan pembayaran, keringanan bunga, dan mencari pemasok yang lebih murah.Tantangan yang dihadapi UMKM adalah terbatasnya kapasitas produksi, kesulitasn akses permodalan terhadap perbankan, skill literasi yang rendah, kemampuan adaptasi beradaptasi yang rendah, terbatasnya kapasitas IT untuk digitalisasi, serta minimnya penguatan jejaring bisnis, inovasi dan produksi.

Berbicara mengenai kondisi dan tantangan LPM dalam masa pandemi Covid-19 di Indonesia, hasil survei P2E-LIPI memperlihatkan ada beberapa dampak yang ada, misalnya menurunnya jumlah tabungan, menurunnya pinjaman yang disalurkan, menurunnya net cash flow laba, dan meningkatnya NPL/F. Yang menjadi tantangan adalah 63,9% belum mendapat bantuan , banyaknya UMKM yang terganggu kinerjanya, penarikan tabungan anggota besar besaran, dan kesulitan mencari dana pihak ketiga. 

Hal yang dapat dilakukan oleh UMKM antara lain melanjutkan stimulus ekonom, intervensi dari sisi pemerintah, membangun basis data UMKM yang solid dan terintegrasi antar kementerian, penguatan aliansi strategis BUMN dengan UMKM dan LPM, penguatan ekosistem inovasi dan digital, serta pendampingan yang insentif dan berkelanjutan pada UMKM terutama tentang teknologi.

Dr. Zamroni salim memberikan gambaran tentang Isu dan tantangan perdagangan internasional. Dari segi tantangan dinamika internasional, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan. Misalnya terkonsentrasinya tujuan ekspor ke sejumlah mitra dagang utama, proteksionisme global, produk ekspor indonesia masih bertumpu pada bahan mentah berbasis SDA, dan masih rendahnya keterlibatan UKM dalam memanfaatkan FTA.

Kerangka kerjasama regional dan bilateral akan menjadi ajang negara anggota anggota untuk meningkatkan perdagangan dan investasi sesama anggotanya. Perbaikan ekonomi di banyak negara di dunia harus bisa dimanfaatkan Indonesia dengan menyasar tidak hanya negara utama, tetapi juga negara mitra di sejumlah kawasan (Afrika, eropa TImur, Asia Barat, Pasifik)

Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah meningkatkan perdagangan dengan memberikan sejumlah insentif fiskal, intervensi kebijakan moneter yang prudent dengan memperhatikan perubahan / perbaikan harga, perluasan pasar ekspor ke negara mitra potensial, dan mengembalikan “Emergency Trade Measures” kembali ke normal MFN/FTA Tariffs.

 

 

 

 

 


 Outlook Ekonomi 2020

 

Komentar

*
*
*