Mengubah Pola Konsumsi, Perkuat Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Masa Pandemi

Jakarta, Humas LIPI - Dampak pandemi terhadap ketahanan pangan rumah tangga sedikit banyak telah mengubah pola konsumsi dari pilihan belanja, mengolah dan mengkonsumsi produk pangan. Perhatian khusus perlu diberikan bagi kelompok rumah tangga yang rentan terhadap masalah krisis pangan hingga ancaman kelaparan.  

 

Ketahanan pangan rumah tangga di masa pandemi COVID-19 ini menjadi perhatian khusus,  karena terkait dengan bagaimana rumah tangga dapat bertahan untuk keberlangsungan hidupnya. ”Adanya perubahan pola konsumsi menjadi peluang bagi peningkatan diversifikasi pangan lokal melalui penyebaran informasi produk-produk pangan sehat dan bergizi”, ungkap Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Purwanto, dalam acara Webinar Series #1 Jamur Pangan Sumber Protein Nabati di Masa Pandemi COVID-19, pada Rabu (7/10).

 

Purwanto mengatakan, penguatan pangan lokal melalui diversifikasi produksi dan konsumsi akan menjaga ketahanan pangan nasional dari guncangan pasokan pangan dunia.”Semakin banyaknya rumah tangga yang melakukan aktivitas pengolahan makanan dari rumah dapat menjadi awal bagi gerakan urban/instant/family farming”, jelas Purwanto. Dirinya mencontohkan, gerakan ini dilakukan dengan cara pemanfaatan pekarangan atau halaman rumah sebagai media tanam mini untuk beberapa jenis tanaman usia pendek seperti: sayur-mayur, cabe, tomat, dan lainnya. “Meskipun secara umum tidak banyak yang bercocok tanam di pekarangan rumah tetapi ada peningkatan aktivitas di masa pandemi”, tambahnya.


Selama masa pandemi, Purwanto menyebutkan terjadi perubahan aktivitas konsumsi pangan. Hal ini diketahui dari survei daring yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Ekonomi LIPI pada 15 September hingga 5 Oktober 2020. ”Data awal kondisi ketahanan pangan rumah tangga dari hasil survei masih merupakan preliminary expose, datanya belum diolah secara utuh dan masih dalam proses analisis lebih lanjut”, paparnya. Purwanto mempertegas, kalau hasil survei daring ini sedang dalam proses analisis lebih lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih komprehensif, dalam menjelaskan kondisi ketahanan pangan rumah tangga di masa pandemi dan diperkirakan akan selesai pada akhir  Oktober ini.

 

“Hasil survei menjelaskan rumah tangga cenderung mengurangi frekuensi belanja ke pasar atau warung atau rumah makan. Disisi lain diketahui ada peningkatan aktivitas belanja online untuk produk pangan dan non pangan”, sebut Purwanto. Temuan survei lainnya diketahui bahwa, rumah tangga menjadi lebih sering dalam mengolah makanan sendiri dari bahan pangan mentah maupun setengah jadi. “Hal ini kemungkinan terjadi karena beberapa pertimbangan misalnya penghematan belanja, keamanan pangan, dan juga keluangan waktu terutama pada rumah tangga yang anggota keluarganya menjalankan Work From Home (WFH)”, tambahnya.

 

Dijelaskan pula, terkait dengan pola mengubah konsumsi pangan karbohidrat atau alternatif non-beras. Purwanto menerangkan bahwa kemampuan responden memilih setidaknya ada tiga jenis pangan alternatif non-beras yaitu, gandum dan produk olahannya, umbi-umbian, dan jagung. “Gandum dan produk olahannya masih menjadi pilihan sebagian besar responden yang mungkin saja dipengaruhi oleh citarasa dan ketersediaannya beserta kemudahan dalam pengolahan bahan dari gandum tersebut”, terangnya.

 

Purwanto menegaskan dari dampak COVID-19 secara makro, menyebabkan resesi ekonomi dan penurunan pendapatan masyarakat. Selain itu juga menyebabkan terganggunya rantai pasok pangan yang mengancam ketahanan pangan. “Sehingga program bantuan pangan dalam berbagai bentuk dan sasaran kelompok masyarakat harus tetap dijalankan, selama kondisi perekonomian belum mencapai kondisi yang lebih baik dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan membuka peluang bagi peningkatan pendapatan masyarakat”, tutup Purwanto. (dsa /ed:mtr) 


 Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

 admin

Komentar

*
*
*