Peneliti P2E LIPI, Pihri Buhaerah menjadi narasumber dalam Webinar “Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19 & Peningkatan Kemudahan Berusaha Indonesia”

Sebagai rangkaian dari peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) kementerian keuangan tahun 2020 , Badan Kebijakan Fiskal mengundang para peneliti,analis,dan akademis untuk menyumbangkan pemikiran mereka dalam bentuk paper kebijakan yang mengangkat tema “Strategi Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19 & Peningkatan Kemudahan Berusaha Indonesia”. Kemudian, Badan Kebijakan Fiskal mengadakan webinar yang menampilkan paparan dan diskusi dengan 6 paper terbaik dari 160 paper yang ada. Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI), Pihri Buhaerah, menjadi salah satu pemenang sekaligus narasumber dalam webinar tersebut dengan paper yang berjudul "Transformasi Hijau dan Implikasinya terhadap Daya Saing Berkelanjutan". Dalam kesempatan tersebut, Pihri Buhaerah mengungkapkan bahwa produk produk industri manufaktur yang diekspor saat ini semakin banyak menghadapi hambatan non tarif ketimbang tarif. Hambatan tersebut dapat berupa standar regulasi lingkungan yang semakin ketat, seperti yang terjadi pada pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa. Maka dari itu, ia menekankan perlunya transformasi hijau pada sektor industri manufaktur Indonesia. Karena, baik dari hasil analisis pangsa pasar konstan maupun analisis rantai pasok global, keduanya menunjukkan daya saing dan tren industri manufaktur kotor yang sedang menurun. Sebaliknya, industri manufaktur bersih mengalami tren peningkatan dari sisi partisipasi di pasar global, seiring dengan semakin banyaknya negara yang menerapkan regulasi lingkungan dan memberlakukan standarisasi produk yang lebih ramah lingkungan. Sehingga, daya saing transformasi hijau di pasar global lebih tinggi dibandingkan dengan industri yang belum melakukan transformasi hijau. Untungnya, di Indonesia masih ada peluang yang besar bagi industri manufaktur bersih. Pasalnya, selisih antara industri manufaktur kotor dan bersih tidak terlalu signifikan yaitu hanya berkisar 3 - 4 persen. Tentunya, untuk mendukung industri manufaktur bersih perlu adanya dukungan baik itu peraturan kebijakan maupun regulasi yang mendorong dan mendukung kemajuan industri manufaktur bersih. Dengan adanya standar lingkungan yang memenuhi standar global, kita bisa melakukan transformasi hijau. Sehingga, industri manufaktur Indonesia dapat memperluas akses pasarnya, terutama ke negara negara maju yang memiliki regulasi lingkungan yang ketat seperti Amerika, Kanada, dan Uni Eropa.

 Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19

 

Komentar

*
*
*