Mengenang Pak Thee Kian Wie

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo

Nggak tahu kenapa, setiap kali berpapasan dengan teman dari Pusat Penelitian Ekonomi (P2E), yang menempati lantai 4 dan 5 Gedung Widya-Graha LIPI, biasanya di lift, saya selalu menanyakan apakah Pak Thee ada, meskipun sering  pertanyaan saya  itu sekedar basa-basi. Jawaban yang sering saya dapat biasanya adalah demikian: “Biasanya beliau datang setelah makan siang atau sore”. Pak Thee sebetulnya sudah lama pensiun sebagai peneliti pemerintah, tapi hampir setiap hari  beliau masuk kantor, kecuali kalau sedang bepergian ke luar negeri, dan produktivitasnya dalam menulis paper, journal articles, book chapters atau buku, mungkin belum ada yang bisa menyaingi.

Aktivitas beliau dalam mengikuti seminar dan konferensi di luar negeri juga tidak menurun, lagi-lagi membuat kami yang muda sesungguhnya patut merasa malu. Kolaborasi Pak Thee dengan peneliti dari luar negeri juga sukar dicari bandingannya. Pak Thee dekat sekali hubungannya dengan ahli-ahli Indonesia, terutama peneliti ekonomi dan sejarah, di ANU Australia, dan Leiden, Belanda. Adalah menjadi kebiasaan Pak Thee mengadakan acara diskusi kecil dengan mengundang rekannya dari luar negeri yang kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta.

Pada hari Selasa 4 Februari, saya berpapasan  di lift dengan Zamroni, rekan peneliti di P2P, yang dulu belajar di Nagoya, dan seperti biasa saya bertanya tentang Pak Thee. Zamroni memberitahu kalau Pak Thee sedang dirawat di RS St. Carolus karena lambungnya sakit. Saya menduga sakit biasa saja maklum beliau sudah berusia diatas 80 tahun. Malamnya, saya mencoba menanyakan tentang keadaan Pak Thee, melalui SMS, ke Siwage, juga rekan peneliti muda dari P2P – yang kesan saya mungkin paling dekat dengan Pak Thee. Dalam jawabannya, Siwage mengatakan bahwa Pak Thee masih di rumah sakit, tetapi tidak mau ditengok, dan mungkin akan segera pulang ke rumah. Saya membalas SMS wage dengan “syukurlah’.  Hari sabtu pagi, 8 Februari, Mbak Ninuk,  mantan tetangga kamar saya di Lt 9 Widya-Graha LIPI, mengirim sms, terusan dari SMS Mahmud Thoha, mantan Kapus P2P, yang mengabarkan Pak Thee Kian Wie telah meninggal dunia.

Umur saya terpaut agak jauh dengan Thee Kian Wie. Ketika saya baru masuk Leknas LIPI, tahun 1980, Pak Thee sudah sangat senior dan namanya sudah sangat terkenal di dalam dan luar negeri. Karena saya ditempatkan di  kantor Leknas –LIPI Jalan Raden Saleh, sementara Pak Thee di Jalan Gondangdia, saya hanya sesekali melihat beliau, biasanya di dalam ruang seminar atau di perpustakaan Leknas-LIPI yang juga terletak di Jalan Gondangdia. Pak Thee di mata saya merupakan seorang yang selalu berpakaian rapi, baju lengan pendek, hampir selalu putih atau krem, selalu dimasukkan ke celananya, yang juga hampir selalu berwarna terang. Ciri lain dari pak Thee adalah potongan rambutnya yang selalu pendek. Secara umum gambaran saya tentang Pak Thee adalah seorang yang sangat bersahaja dalam hidup. Bahkan tahun 1980 itu saya kira beliau belum lama mengakhiri  hidup membujang.

Pada awal tahun 1982 saya mulai tinggal di Canberra karena melanjutkan studi di ANU. Dan Pak Thee ternyata juga tinggal di Canberra sebagai peneliti tamu di Indonesia Project , ANU, dan saat itulah saya mulai mengenal lebih jauh beliau, melalui kebiasaan kumpul-kumpul keluarga dan mahasiswa dan juga melalui seminar-seminar tentang Indonesia yang sering diadakan  ahli-ahli Indonesia yang banyak di ANU.  Pak Thee adalah seorang pembicara yang selalu penuh semangat dalam setiap seminar. Pandangannya kritis namun selalu berusaha konstruktif disertai dengan dukungan data, menjadikannya kita kewalahan kalau tidak betul-betul siap berdiskusi. Sikapnya yang selalu rendah hati dan tidak jarang bernada  menyanjung,  sebetulnya menyembunyikan sikapnya yang kritis terhadap lawan bicaranya. Sebetulnya mengherankan, orang sekaliber Pak Thee mau bertahan bekerja sebagai peneliti pemerintah di LIPI.

Padahal kalau dia mau, mudah saja pindah menjadi dosen atau peneliti di universitas ternama di luar negeri, atau menjadi konsultan tetap di World Bank, ADB, atau minimal UNDP. Tapi tidak, dia memilih tetap bekerja di LIPI, bergaul dengan para peneliti yang umumnya jauh lebih muda, mendorong untuk sekolah, memberikan rekomendasi, dan tidak segan membagikan paper atau artikel yang baru ditulisnya – setelah tahun 2000an – melalui email, hampir selalu dengan kata-kata: “kalau tidak menarik, buang saja ke tempat sampah”, “ini hanya paper Mickey Mouse”, dst. Pak Thee adalah seorang yang “generous” dalam membagi pengetahuannya, atau dalam membuat dirinya “available” kepada yang lain. Selain menulis paper serius, Pak Thee juga seorang penulis kolom, sering di Kompas, menunjukkan sisi lain dirinya sebagai intelektual publik yang tidak segan-segan memperlihatkan posisi politiknya dalam ruang publik.

Mengenang Pak Thee berarti mengenang seorang yang tampil secara bersahaja, namun sesungguhnya mengintimidasi secara pikiran. Sebagai peneliti yang jauh lebih muda ada rasa enggan sekaligus semacam rasa malu berhadapan dengan Pak Thee, mungkin karena kita tahu sulit untuk mengikuti keseriusan dan konsistensinya sebagai seorang yang memilih hidup sebagai peneliti.  Saya jadi ingat kata-kata Profesor Sartono Kartodirdjo, sejarawan senior dari UGM yang telah lama meninggalkan kita, tentang hidup asketis. Pak Thee saya kira contoh dari orang yang hidup secara asketis: rumahnya tidak berubah, tetap kecil di Rawasari, mobilnya, meskipun beberapa kali berganti, juga selalu kecil dan jauh dari kemewahan. Meskipun tidak banyak, ada juga peneliti LIPI yang memiliki mobil mewah – bagi ukuran umumnya peneliti di LIPI. Pak Thee kalau berbicara seputar soal ini terlihat mukanya  berseri-seri dengan sarkasmenya yang  seperti mengolok-olok diri sendiri.

Hari ini kita ditinggal pergi oleh Pak Thee Kian Wie untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi Pak Thee – yang  penampilannya diam-diam sesungguhnya mengintimidasi kita – karena diam-diam juga kita mengakui dalam hati – betapa sulit meneladani hidupnya  sebagai seorang peneliti pemerintah yang penuh asketisme, serius dan konsisten dalam melahirkan tulisan-tulisannya yang bermutu. Selamat jalan Pak Thee, sudah saatnya beristirahat !

Rawamangun,  8 Februari 2014.


Sumber foto : statik.tempo.co