Teori dan konsep pembangunan inklusif dan daya saing di Indonesia
Tema: daya saing


  • 2016
  • DKI Jakarta
  • Pembangunan Daerah
  • Dhani Agung Darmawan M.S.E., Esta Lestari S.E., M.Econ.St., Dr. Agus Eko Nugroho S.E.M.Appl.Econ., Dr. Latif Adam S.E.,M.Econ.Stat, Drs. Darwin M.Sc., Drs. E. Toerdin S. Usman MA., Drs. Mahmud Thoha M.A., APU., Prof. Dr. Ir. Carunia Mulya Hamid Firdausy M.A., Prof. Dr. Sarip Hidayat , Prof. Drs. Hari Susanto M.A. n

Abstrak:

Pembangunan inklusif dan daya saing belakangan ini menjadi jargon “sexy dan juicy” yang banyak diungkap dalam literatur pembangunan ekonomi di berbagai negara (baca, misalnya, ADB, 2014). Salah satu alasan yang menjadi dasar pentingnya pembangunan ekonomi inklusif dan berdaya saing disebabkan kenyataan konsep pembangunan yang hanya mengandalkan mekanisme “trickle down effect” dari pertumbuhan ekonomi yang diyakini kaum Neo-klasik ternyata tidak mampu mengatasi persoalan kemiskinan, ketimpangan pendapatan, pengangguran dan kelestarian lingkungan di berbagai negara termasuk Indonesia.

Khusus untuk Indonesia McCawley (2014) menyatakan: “Indonesia has a lot of problems, he often said, but the biggest is mass poverty”. The solution, he argued, was a lot of foreign investment, new factories and then tweaking of policy to ensure just outcomes. Hal yang sama juga terkait dengan twin evils pembangunan lainnya yakni terkait ketimpangan pendapatan dan pengangguran (ADB, 2014; Bank Dunia 2015). Oleh karena itu, sungguh benar klaim yang menyatakan bahwa “growth is necessary, but it is not sufficient to eliminate poverty, income inequality and unemployment”. Dengan demikian, mutlak penting dirumuskan konsep, teori, strategi dan kebijakan “baru” dalam pembangunan Indonesia yang utuh, berdaya saing dan berkesinambungan.

Share: